Dulu kamu, dia, dan mereka hidup bahagia, rukun, dan damai. Kalian bersahabat, bahkan bersaudara, saling menyayangi satu sama lain. Siapapun yang ngeliat kebahagiaan kalian pasti pengen ikutan bergabung segera. Tapi semuanya hancur, gara-gara kedatangan aku. Semenjak aku hadir di kehidupan kamu, keakraban kalian langsung gonjang-ganjing. Kamu sama dia akhirnya pisah. Kamu dan mereka sempat berseteru. Akh, kemana perginya kebahagiaan yang dulu selalu menghiasi markas besar kalian? Kedamaian dan keceriaan yang dulu ada seakan menguap gitu aja.
Andai aku ga pernah mengusik kehidupan kalian. Andai aku ga pernah tertarik sama senyuman kamu. Andai aku ga pernah menyimpan rasa sama kamu. Andai kamu ga tergoda untuk mengalihkan perhatian kamu ke aku. Andai aku lebih peka, sensitif, dan cerdas dalam membaca situasi. Andai aku mengindahkan naluri perempuan dalam hatiku. Aku bakal ngerti kalo kamu sama dia udah berdua walaupun ga ada kata yang berucap demikian. Aku juga bakal tau diri untuk ga mendekat ke arah kamu sedikit pun.
Kenapa aku bodoh banget? Kenapa aku jadi orang naïf & egois banget? Kenapa aku ga mau percaya sama naluriku sendiri kalo kalian tuh jelas-jelas udah berdua dan ga semestinya aku melibatkan diri.
Sekarang semuanya udah kepalang terjadi. Kamu udah pisah sama dia. Kamu sama mereka juga sekarang jadi ga seasik dulu. Dan aku? Aku terjebak dalam perasaan bersalah yang ga ada abisnya. Andai aku punya kuasa buat ngelakuin sesuatu, aku pengen dia yang udah aku sakiti bisa tersenyum lepas lagi. Bisa ngerasain kebahagiaan yang luar biasa sehingga rasa sakit yang selama ini timbul gara-gara aku bisa terhapus perlahan-lahan.
Ya Allah, bantu aku ngadepin situasi sulit ini. Aku ga mau manja. Aku emang ada di posisi “yang menyakiti” jadi ga ngerasain sakit kayak yang dia rasain. Tapi ada di posisi kayak gini ternyata ga gampang juga.
Ya, ini ujian buat aku, kamu, dia, dan mereka. Hidup ga selamanya indah sesuai sama kehendak kita. Dari mana kita bisa belajar bersyukur atas nikmatnya kebahagiaan, kalo bukan dari merasakan ujian atas ketidakbahagiaan itu sendiri.
Aku sayang kamu, dan aku juga sayang sama mereka semua yang notabene temen-temen aku. Aku ga mau nyakitin kalian dalam level yang lebih ekstrim lagi dari ini. Mungkin emang jauh lebih baik kalo aku kembali lagi ke titik awal. Ke titik di mana ada jarak aman yang membentang di antara kita. Aku jadi bisa biasa aja sama kamu. Kamu juga bisa jadi lebih leluasa sama mereka. Aku yakin aku bisa. Aku yakin kamu bisa. Aku yakin kita semua bisa. Kita harus lebih bersabar lagi. Terima kasih ya Allah karena telah memilih kami semua untuk ikut serta dalam ujian yang spesial ini.

0 komentar:
Poskan Komentar