Sore itu langit menunaikan tugas mulia yang telah diamanahkan Tuhan kepadanya agar memberi rezeki pada makhluk-makhluk yang bernaung di kaki langit dalam bentuk untaian air hujan. Para muda-mudi, baik yang lajang maupun telah sepasang, berduyun-duyun menghampiri sebuah pusat perbelanjaan berlantai enam untuk berteduh dari derasnya hujan. Aku pun ada di sana, duduk termangu memandang jalan raya, dari puncak tangga di pintu samping. Seorang lelaki muda duduk tepat di sampingku dengan pose yang hampir sama denganku. Tangannya lihai memutar-mutar batang rokok yang tinggal setengah, sementara asap putih beracun tampak mengepul dari bibirnya yang kering dan kehitam-hitaman.
Lelaki itu sesekali melirik ke arahku dengan tatapan yang tenang, namun nyaris tak terbaca. Kupandangi ia dari ekor mataku sambil berusaha keras memaknai tatapannya yang misterius. Aku berusaha sekuat tenaga mengendalikan rasa gelisah yang telah menjalar di sekujur tubuhku. Tapi aku tahu betul, kegelisahanku telah terbaca dengan sangat jelas olehnya. Waktu terus berlalu, hujan masih turun dengan intensitas air yang berubah-ubah. Para muda-mudi yang berteduh bersama kami telah berganti wajah berulang kali.
Aku sadar aku telah berbuat zalim padanya karena membuatnya menunggu sekian lama dan membiarkannya terjebak dalam prasangka pribadi. Biarkan sajalah. Aku tahu ia akan terus bersabar, karena ia tengah menanti sebuah jawaban dari mulutku. Perlahan-lahan aku mengumpulkan bulir-bulir keberanianku, menurunkan kegengsianku, dan tak lupa aku pun mencairkan sedikit keangkuhan dalam diriku. Sambil memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, aku mendengar diriku sendiri berkata, “Ya, aku menyukaimu”.
Lelaki itu sesekali melirik ke arahku dengan tatapan yang tenang, namun nyaris tak terbaca. Kupandangi ia dari ekor mataku sambil berusaha keras memaknai tatapannya yang misterius. Aku berusaha sekuat tenaga mengendalikan rasa gelisah yang telah menjalar di sekujur tubuhku. Tapi aku tahu betul, kegelisahanku telah terbaca dengan sangat jelas olehnya. Waktu terus berlalu, hujan masih turun dengan intensitas air yang berubah-ubah. Para muda-mudi yang berteduh bersama kami telah berganti wajah berulang kali.
Aku sadar aku telah berbuat zalim padanya karena membuatnya menunggu sekian lama dan membiarkannya terjebak dalam prasangka pribadi. Biarkan sajalah. Aku tahu ia akan terus bersabar, karena ia tengah menanti sebuah jawaban dari mulutku. Perlahan-lahan aku mengumpulkan bulir-bulir keberanianku, menurunkan kegengsianku, dan tak lupa aku pun mencairkan sedikit keangkuhan dalam diriku. Sambil memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, aku mendengar diriku sendiri berkata, “Ya, aku menyukaimu”.
